
Kementerian Keuangan (Chmengu) memberikan anggaran 13,6 triliun untuk mengoperasikan diskon tarif listrik dari 50% dari Februari 2025 hingga Februari.
“Berdasarkan penilaian sementara, total anggaran RP diperlukan.
Pada Januari 2025, 71 juta pelanggan diberi biaya listrik, dan pada bulan Februari 2025, 64,8 juta pelanggan disubsidi.
Keluarga yang layak untuk hibah memiliki 450 volt Ampere (VA), 900 VA, 1.300 VA dan 2.200 tenaga listrik VA.
“Pada Januari-Februari 2025, pelanggan diberi biaya daya dengan daya hingga 2.200 VAS,” tambahnya.
Kebijakan ini berdampak pada harga yang dikontrol pemerintah (harga yang dikelola). Berdasarkan data Central Statistics Agency (PBS), elemen harga yang dikelola mengalami 7,38% bulanan dan 6,41% tahun ini di Januari 2025.
Pada bulan Februari 2025, inflasi terdaftar di 2,65% setiap bulan dan 9,02% tahun.
“Ketika harga listrik menurun, inflasi juga berkurang karena kebijakan pemerintah,” jelasnya.
Sebelumnya, ekonom permata di bank Joshua Bartett memperkirakan bahwa inflasi berada pada kisaran 2% pada akhir 2025, dan bahwa dampak diskon tarif daya diperkirakan akan hilang setelah Maret 2025.
Pemerintah hanya mengendalikan kebijakan ini dalam waktu dua bulan dari Januari dan Februari 2025. Jika kebijakan ini tidak diperluas, inflasi diharapkan menjadi 1,5% -3,5% dari target Indonesia.
“Selain itu, inflasi kemungkinan akan dipengaruhi oleh efek utama terendah dari tahun lalu,” kata Joshua.
Diskon tarif listrik diketahui oleh pemerintah selama tahun 2025.